Hasselt Heeft Het: Compact City di Suburban Negara Belgia

Mungkin kalian tidak pernah mendengar nama kota tersebut dan mulai menerka dimana lokasinya. Tapi lain halnya jika mendengar Leuven, Antwerp, Ghent atau Brussels. Ya, Hasselt merupakan salah satu kota yang terletak di sebelah barat Belgia, lebih tepatnya berada di provinsi Limburg dan berlokasi cukup dekat dengan Belanda.

Jika kalian mengetahui Leuven atau Ghent karena keberadaan universitas di kota tersebut, atau mengenal Antwerp sebagai pelabuhan kedua terbesar di Eropa setelah Rotterdam dan tentu saja mengenal Brussels sebagai ibukota Belgia dan lokasi European Comission. Lalu bagaimana dengan Hasselt? Jujur saja, penulis sendiri juga tidak banyak mengetahui atau mendapat informasi mengenai kota ini, sebelum penulis berangkat untuk menempuh studi di kota ini. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak untuk mengenal Hasselt, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di kota ini.

http://visithasselt.be/nl/stadsplan-0

https://www.lonelyplanet.com/maps/europe/belgium/map_of_belgium.jpg

Hasselt merupakan ibukota Provinsi Limburg dengan luas area sekitar 102,24 km2 dan menjadi salah satu bagian dari Meuse-Rhine Euroregion atau kerjasama transnasional antar wilayah yang terletak diantara Sungai Rhine dan Sungai Meuse.

Hampir sama seperti kebanyakan kota-kota di Eropa lainnya, pusat kota Hasselt juga merupakan bagian dari kota tuanya walau menurut saya dibandingkan dengan kota lain tidak terlalu banyak bangunan-bangunan tua yang dapat dilihat. Beberapa diantaranya dan menjadi atraksi utama adalah Katedral Saint-Quintinus, Stadhuis atau City Hall, dan Grote Markt seperti terlihat pada gambar berikut:

Grote Markt yang menjadi salah satu pusat aktivitas dengan latar belakang menara Katedral Saint-Quintinus

Stadhuis atau Old City Hall di malam hari

Hal lain yang menarik dari kota ini adalah keberadaan ring atau jalan utama yang melingkari pusat kota dan dihubungkan oleh jalan-jalan utama (disebut sebagai jalan nasional, ditandai dengan kode N) ke bagian lain dari kota Hasselt (wilayah suburban) maupun dengan kota lain di sekitarnya seperti terlihat pada peta sebelumnya.

Inner ring merupakan ring yang mengelilingi centrum atau pusat kota Hasselt. Arus lalu lintas di ring ini hanya satu arah, berlawanan arah jarum jam. Kendaraan yang memasuki ring ini pun dibatasi, baik dari segi kecepatan maupun jumlahnya. Uniknya, pemerintah menyediakan bus yang khusus melayani rute mengelilingi ring ini. Sedangkan untuk outer ring didominasi oleh beragam jenis kendaraan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jalur ini juga dijadikan alternative bepergian, mengingat kondisi inner ring yang cukup padat terutama di jam-jam sibuk. Antara inner ring dan outer ring terdapat lokasi permukiman penduduk dan fasilitas penunjang lain seperti sekolah, rumah sakit, dan sebagainya. Sedangkan kawasan di luar outer ring merupakan suburban area, dimana masih dapat dijumpai kawasan peternakan milik penduduk setempat.

Selain itu, walaupun Hasselt bisa dibilang cukup kecil dan tidak terlalu ramai, menurut penulis pribadi Hasselt merupakan salah satu compact city, karena semua fasilitas pendukung, terutama beberapa ritel utama di Eropa memiliki cabang di kota ini.

Kota ini sendiri juga dilengkapi dengan jalur sepeda di hampir seluruh área, baik itu berupa jalur khusus yang terpisah dari kendaraan lain maupun jalur yang berdampingan dengan jalur kendaraan lain.  Di beberapa bagian dari centrum, juga terdapat fietstraat atau sharing street antara sepeda dan kendaraan bermotor. Di jalan ini, para pengendara kendaraan bermotor harus mengalah dan memberikan jalan kepada para pesepeda dan tidak diperbolehkan untuk berkendara lebih dari 30 km/jam. Berikut beberapa jenis jalur sepeda yang ada di kota Hasselt:

Fietstraat ditandai dengan warna merah beserta gambar pesepeda dan mobil seperti tampak pada gambar

Satu hal lain yang juga menarik adalah adanya subsidi untuk transportasi publik, terutama bus bagi penduduk kota Hasselt. Penduduk disini tidak hanya mereka yang berasal, tapi juga siapapun yang tinggal dan memiliki identitas kota Hasselt. Pada periode 1997-2014, penduduk kota ini dapat menikmati layanan bus secara gratis. Hal tersebut tentu saja berdampak pada peningkatan jumlah pengguna bus. Biaya tersebut disubsidi baik oleh pemerintah regional maupun pemerintah kota Hasselt, tetapi seiring berjalannya waktu dengan adanya krisis ekonomi dan peningkatan biaya operasional maka pemerintah kota pun memberhentikan kebijakan transportasi publik gratis ini, dan penduduk pun diwajibkan untuk membayar, walaupun tidak sebesar penduduk di kota lainnya. Alasan lain dari berakhirnya kebijakan ini adalah tetap tingginya jumlah volume kendaraan pribadi dari tahun ke tahun.

Belum banyak hal yang bisa penulis ceritakan mengenai kota ini. Tetapi satu hal yang pasti, kota ini telah membuat penulis jatuh cinta dengan caranya sendiri. Walaupun di awal kedatangan penulis kerap merasa jengkel karena toko-toko yang tutup pukul 18.00, kondisi di hari Minggu yang seperti kota mati, dan kediaman penulis yang cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian, ternyata belakangan justru membuat penulis bisa merasa betah dan rindu akan suasana kota ini. Ya, seperti moto kota ini Hasselt Heeft Het atau Hasselt has it, kota ini memiliki segalanya, termasuk sesuatu yang berbeda dari kota lain apalagi dari Jakarta. Hehehe.

Hasselt dari ketinggian

Tulisan oleh: Anggarani Fatmawati (PWK 2010) – raniefatma.wordpress.com.

Source:

agencywordpress themes