Sebuah Cerita

Ada guyonan yang mengatakan bahwa “Bagi seorang mahasiswa, kehidupan yang sebenarnya dimulai sehari setelah ia diwisuda”. Jika ditelaah lebih lanjut, tentunya guyonan ini memiliki makna yang cukup dalam. Seperti yang kita ketahui bahwa pada umumnya, kehidupan menjadi mahasiswa didominasi oleh hal-hal yang bersifat teoritis, imajinatif dan ideal. Sedangkan dunia post-mahasiswa adalah dunia empiris yang didominasi oleh hal-hal yang bersifat praksis serta sangat dinamis. Dunia post-mahasiswa inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sebenarnya dan mau tidak mau akan dialami oleh semua mahasiswa tanpa terkecuali, termasuk penulis secara pribadi. Berbicara mengenai dunia mahasiswa, penulis menjalaninya cukup lama. Dimulai ketika Cannavaro mengangkat tropi di Jerman dan berakhir pada momen dimana legenda hidup Italia tersebut telah menjadi perwakilan negaranya dalam undian grup untuk pertarungan selanjutnya di Brazil.

Pasca meninggalkan dunia mahasiswa, penulis sempat merasa bingung untuk memilih dunia post-mahasiswa seperti apa yang akan digeluti. Dari sekian banyak ikhtiar yang dilakukan, pada akhirnya dunia birokrasi di kampung halaman menjadi tempat pelabuhan bagi penulis untuk merealisasikan hasil kontemplasi selama menuntut ilmu di perantauan. Tentunya pilihan ini menjadi tantangan yang cukup berat mengingat dari sekian banyak kehidupan post-mahasiswa yang ada, dunia birokrasi adalah salah satu dunia empiris yang tidak seideal dan seindah hal-hal teoritis ungkapkan.

Seiring berjalannya waktu, menjadi bagian dari sistem birokrasi memberikan banyak hal yang cukup menarik. Setidaknya beberapa pengalaman tersebut memberikan ide bagi penulis untuk mensintesakannya dalam beberapa frase sebagai bahan renungan dan pembelajaran dikemudian hari.

Pertama, sudah saatnya kita move on dari dunia mahasiswa. Dunia birokrasi bukan lagi kawah candradimuka untuk mendiskusikan panjang lebar tentang hal-hal teoritis. Akan tetapi, merupakan suatu arena pertarungan untuk mentransformasikan segala aspek teoritis yang ada menjadi sesuatu yang aplikatif, bermanfaat dan mampu menjawab fenomena serta kebutuhan masyarakat yang ada. Terkait dengan hal ini, ada juga beberapa kalangan yang mengemukakan pendapat bahwa ketika anda bekerja di birokrasi maka segala aspek teoritis yang ada tidak akan terpakai. Akan tetapi menurut penulis, tidak dimanfaatkannya aspek teoritis secara arif dan bijaksana sebagai pedoman oleh para birokrat justru membuat birokrasi cenderung terjebak dalam kegiatan rutinitas serta hal-hal yang bersifat seremonial semata.

Kedua, terkadang dunia birokrasi khususnya di daerah sering terjebak dalam kekakuan dan pemikiran kolot yang dogmatik. Kondisi seperti ini yang membuat inovasi, imajinasi dan kreatifitas belum menjadi prioritas. Diperlukan suatu upaya yang berkesinambungan agar problematika seperti ini dapat teratasi. Sebagai generasi muda yang bekerja di birokrasi, maka dalam konteks seperti ini, tugas kita adalah menjadi jembatan. Tidak peduli menjadi jembatan besar, kecil, beton, kayu atau hanya bambu sekalipun. Karena yang paling utama adalah bagaimana diri kita mampu membawa pemikiran-pemikiran masa lalu berani menyebrang ke masa depan yang lebih baik.

Selanjutnya, bekerja di dunia birokrasi menuntut kita untuk bisa semua hal. Hal ini dikarenakan sebagai birokrat kita tidak hanya menangani dinamika terkait dengan keilmuan semata. Seperti halnya yang penulis pribadi alami di lapangan. Meskipun secara latar belakang pendidikan, formasi dan tupoksi adalah seorang perencana kota namun dalam suatu waktu harus siap menjadi seorang ekonom, auditor anggaran, fasilitator, negosiator, antropolog bahkan rimbawan sekalipun. Konsekuensinya, kita harus mau untuk belajar mengenai hal-hal yang baru diluar keilmuan yang kita miliki baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Dan yang paling penting, kita harus sadar bahwa birokrasi sejatinya adalah sebuah instrumen untuk melayani masyarakat sehingga attitude, integritas serta sensitivitas dan kepedulian sosial tidak sekedar dipahami namun dihayati dan ditunjukkan melalui tindakan yang nyata.

Pada akhirnya, penulis teringat apa yang dikatakan oleh Buya Hamka,

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup, kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja”.

Dalam kehidupan post-mahasiswa, petuah bijak ini sangat korelatif. Sebagai bagian kecil dari total generasi muda Indonesia yang beruntung merasakan empuknya dunia perguruan tinggi tentunya kita memiliki tanggung jawab moral dalam pembangunan bangsa ini. Jika kita hanya sekedar hidup dan bekerja tentu apa bedanya dengan apa yang dianalogikan Buya Hamka tersebut. Tantangan di dunia post-mahasiswa khususnya dunia birokrasi memang sangat berat. Terkadang sebagai anak muda, kita akan berhadapan dengan sistem oligarki mapan yang sering membuat akal sehat dan nurani bertempur dengan kenyataan. Ketidakidealan kolektif berkesinambungan yang dihadapi berpotensi membuat kita kehilangan harapan dan arah di dunia post-mahasiswa. Namun, sampai kapan kita harus menunggu dan larut dalam keadaan? Jika engkau bosan menunggu terjadinya perubahan,mengeluh dan menggerutu tidak akan pernah memperbaiki keadaan. Oleh karena itu, sudah saatnya kita secara kolektif harus menjadi generasi yang menciptakan perubahan.

 

Andryan Wikrawardana, S.T., M.Ec.Dev
Birokrat Muda di Bappeda Kabupaten Muara Enim
Alumni PWK UGM Angkatan 2006
Twitter @andryan_wikra
Email andryan.wikra@gmail.com

agencywordpress themes