Tulisan Kita

Transit Oriented Development: The Future of Jakarta

According to a report from the United Nations, the world population growth is expected to touch 6.3 billion in 2030, of which 94% of the figure is contributed by developing countries including Indonesia. While there is an estimation of about 828 million people in developing countries will live in slums and live in homes that are unfit for habitation. This indicates that there are still many people who do not have the ability to have a decent and affordable home. Therefore, it becomes a logical consequence for our country, to control the problem of housing needs with an appropriate and effective approach. One of the solutions used in the context of housing needs is the procurement of affordable housing.

Read more

Hasselt Heeft Het: Compact City di Suburban Negara Belgia

Mungkin kalian tidak pernah mendengar nama kota tersebut dan mulai menerka dimana lokasinya. Tapi lain halnya jika mendengar Leuven, Antwerp, Ghent atau Brussels. Ya, Hasselt merupakan salah satu kota yang terletak di sebelah barat Belgia, lebih tepatnya berada di provinsi Limburg dan berlokasi cukup dekat dengan Belanda.

Read more

Surat Terbuka* untuk Alumni PWK UGM

*Yah… mumpung sedang tren.

Teman-teman alumni PWK yang baik,

Pada awal 2013 lalu saya hadir di wisuda teman saya di kampus UNSW, Sydney. Saat itu saya masih menjadi mahasiswa S2 di kampus yang sama. Ada kata-kata dari pidato Dr. Alex Zelinsky yang membuat saya terkesan, “The biggest lesson we learn from university is, learning to learn.”

Teman-temanku,

Pertama-tama, semoga saya tidak durhaka, tulisan ini untuk Kencanawitagama dan saya justru mengutip pidato wisuda dari kampus yang lain. Apa kaitannya dengan PWK UGM? Ketika Alex membacakan pidatonya, saya jadi terkenang pada masa-masa sekolah di kampus PWK UGM (dahulu PKD). Banyak tugas di PWK UGM dikerjakan secara berkelompok, mau tak mau membuat kita belajar untuk bekerja sama dengan yang lain. Tujuh studio (sekarang sudah berkurang) menuntut kecekatan kita di lapangan, melatih rasa kepekaan akan ruang, dan memaksa saya untuk lebih berani naik sepeda motor (Hore, Banyumas tuntas! ;>). Studio juga membiasakan kita untuk bertemu langsung dengan para birokrat dan masyarakat untuk mencari data dan wawancara. Rangkaian metode penelitian-seminar perencanaan-skripsi pun menuntut kita untuk berpikir secara logis. Di luar bahan kuliah yang diajarkan, hal-hal ini juga penting dan telah membantu saya ketika studi lanjut dan bekerja. Saya pun mengamini kata-kata Alex, the biggest lesson is learning to learn.

Teman-temanku,

Lalu, ketika lulus, apakah belajar juga sudah selesai? Tentu tidak. Ada banyak tantangan selepas kuliah, kemauan untuk terus belajar adalah salah satu bekal utama kita untuk bisa mengembangkan diri. Bekal cara belajar yang kita dapat di PWK UGM semestinya belum hilang dari diri kita. Itu barangkali salah satu alasan utama kenapa website ini hadir. Melalui tulisan-tulisan di web ini, kita bisa saling belajar. Terlebih, kita tinggal di tempat berbeda dan mendalami sektor yang walau mirip tapi tak serupa. Untuk kemunculan perdana, beberapa teman telah menyempatkan berbagi tulisan. Andre 2006 dan Rendy 2009 menularkan semangat positif sesuai caranya masing-masing. Andre sebagai birokrat muda dan Rendy berbagi pengalaman dalam membentuk Pemuda Tata Ruang (Petarung) bersama teman-teman PWK lainnya. Ada juga Dayu 2005 yang berbagi pikiran tentang perencanaan formal untuk konteks masa kini. Rendy 2009 juga mengingatkan tentang pentingnya menata ruang. Mungkin saya tak akan pernah mendengar tentang Doreen Massey, profesor geografi dari Inggris yang bicara konteks lokal kalau tak ada tulisan dari Raisa 2009. Teman kita Rendy 2007 pun ikut berbagi tentang pengalaman tinggal di Melbourne, kota yang sering disebut sebagai kota paling nyaman di dunia (berhubung sempat tinggal di Sydney, saya sebenarnya tak setuju soal yang satu ini, hehe).

Teman-temanku,

Terima kasih sudah mau menyempatkan membaca surat ini, semoga tulisan-tulisan teman-teman tadi memicu kita semua untuk terus saling berbagi ilmu dan pengalaman, untuk terus mengembangkan diri. Semoga teman-teman yang lain pun dapat ikut menyusul menyumbangkan buah pikirnya di sini.

Salam dan bahagia 🙂

Nini (Lusia Nini Purwajati), angkatan 2004, lulus Februari 2009. Salah satu yang paling rajin berbagi info di mailing list PWK UGM, hobinya tersalurkan dengan menjadi pengurus alumni Kencanawitagama bidang Pengkajian dan Pengembangan Keilmuan.

Untuk teman-teman yang ingin menyumbang tulisan di web ini bisa dikirim ke alamat email keilmuan.kencanawitagama@gmail.com

Sebuah cerita, ketika sudah tidak menjadi mahasiswa

Ada guyonan yang mengatakan bahwa “Bagi seorang mahasiswa, kehidupan yang sebenarnya dimulai sehari setelah ia diwisuda”. Jika ditelaah lebih lanjut, tentunya guyonan ini memiliki makna yang cukup dalam. Seperti yang kita ketahui bahwa pada umumnya, kehidupan menjadi mahasiswa didominasi oleh hal-hal yang bersifat teoritis, imajinatif dan ideal. Sedangkan dunia post-mahasiswa adalah dunia empiris yang didominasi oleh hal-hal yang bersifat praksis serta sangat dinamis. Dunia post-mahasiswa inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sebenarnya dan mau tidak mau akan dialami oleh semua mahasiswa tanpa terkecuali, termasuk penulis secara pribadi. Berbicara mengenai dunia mahasiswa, penulis menjalaninya cukup lama. Dimulai ketika Cannavaro mengangkat tropi di Jerman dan berakhir pada momen dimana legenda hidup Italia tersebut telah menjadi perwakilan negaranya dalam undian grup untuk pertarungan selanjutnya di Brazil.

Pasca meninggalkan dunia mahasiswa, penulis sempat merasa bingung untuk memilih dunia post-mahasiswa seperti apa yang akan digeluti. Dari sekian banyak ikhtiar yang dilakukan, pada akhirnya dunia birokrasi di kampung halaman menjadi tempat pelabuhan bagi penulis untuk merealisasikan hasil kontemplasi selama menuntut ilmu di perantauan. Tentunya pilihan ini menjadi tantangan yang cukup berat mengingat dari sekian banyak kehidupan post-mahasiswa yang ada, dunia birokrasi adalah salah satu dunia empiris yang tidak seideal dan seindah hal-hal teoritis ungkapkan.

Seiring berjalannya waktu, menjadi bagian dari sistem birokrasi memberikan banyak hal yang cukup menarik. Setidaknya beberapa pengalaman tersebut memberikan ide bagi penulis untuk mensintesakannya dalam beberapa frase sebagai bahan renungan dan pembelajaran dikemudian hari.

Pertama, sudah saatnya kita move on dari dunia mahasiswa. Dunia birokrasi bukan lagi kawah candradimuka untuk mendiskusikan panjang lebar tentang hal-hal teoritis. Akan tetapi, merupakan suatu arena pertarungan untuk mentransformasikan segala aspek teoritis yang ada menjadi sesuatu yang aplikatif, bermanfaat dan mampu menjawab fenomena serta kebutuhan masyarakat yang ada. Terkait dengan hal ini, ada juga beberapa kalangan yang mengemukakan pendapat bahwa ketika anda bekerja di birokrasi maka segala aspek teoritis yang ada tidak akan terpakai. Akan tetapi menurut penulis, tidak dimanfaatkannya aspek teoritis secara arif dan bijaksana sebagai pedoman oleh para birokrat justru membuat birokrasi cenderung terjebak dalam kegiatan rutinitas serta hal-hal yang bersifat seremonial semata.

Kedua, terkadang dunia birokrasi khususnya di daerah sering terjebak dalam kekakuan dan pemikiran kolot yang dogmatik. Kondisi seperti ini yang membuat inovasi, imajinasi dan kreatifitas belum menjadi prioritas. Diperlukan suatu upaya yang berkesinambungan agar problematika seperti ini dapat teratasi. Sebagai generasi muda yang bekerja di birokrasi, maka dalam konteks seperti ini, tugas kita adalah menjadi jembatan. Tidak peduli menjadi jembatan besar, kecil, beton, kayu atau hanya bambu sekalipun. Karena yang paling utama adalah bagaimana diri kita mampu membawa pemikiran-pemikiran masa lalu berani menyebrang ke masa depan yang lebih baik.

Selanjutnya, bekerja di dunia birokrasi menuntut kita untuk bisa semua hal. Hal ini dikarenakan sebagai birokrat kita tidak hanya menangani dinamika terkait dengan keilmuan semata. Seperti halnya yang penulis pribadi alami di lapangan. Meskipun secara latar belakang pendidikan, formasi dan tupoksi adalah seorang perencana kota namun dalam suatu waktu harus siap menjadi seorang ekonom, auditor anggaran, fasilitator, negosiator, antropolog bahkan rimbawan sekalipun. Konsekuensinya, kita harus mau untuk belajar mengenai hal-hal yang baru diluar keilmuan yang kita miliki baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Dan yang paling penting, kita harus sadar bahwa birokrasi sejatinya adalah sebuah instrumen untuk melayani masyarakat sehingga attitude, integritas serta sensitivitas dan kepedulian sosial tidak sekedar dipahami namun dihayati dan ditunjukkan melalui tindakan yang nyata.

Pada akhirnya, penulis teringat apa yang dikatakan oleh Buya Hamka,

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup, kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja”.

Dalam kehidupan post-mahasiswa, petuah bijak ini sangat korelatif. Sebagai bagian kecil dari total generasi muda Indonesia yang beruntung merasakan empuknya dunia perguruan tinggi tentunya kita memiliki tanggung jawab moral dalam pembangunan bangsa ini. Jika kita hanya sekedar hidup dan bekerja tentu apa bedanya dengan apa yang dianalogikan Buya Hamka tersebut. Tantangan di dunia post-mahasiswa khususnya dunia birokrasi memang sangat berat. Terkadang sebagai anak muda, kita akan berhadapan dengan sistem oligarki mapan yang sering membuat akal sehat dan nurani bertempur dengan kenyataan. Ketidakidealan kolektif berkesinambungan yang dihadapi berpotensi membuat kita kehilangan harapan dan arah di dunia post-mahasiswa. Namun, sampai kapan kita harus menunggu dan larut dalam keadaan? Jika engkau bosan menunggu terjadinya perubahan,mengeluh dan menggerutu tidak akan pernah memperbaiki keadaan. Oleh karena itu, sudah saatnya kita secara kolektif harus menjadi generasi yang menciptakan perubahan.

Andryan Wikrawardana, S.T., M.Ec.Dev
Birokrat Muda di Bappeda Kabupaten Muara Enim
Alumni PWK UGM Angkatan 2006
Twitter @andryan_wikra
Email andryan.wikra@gmail.com

Berpikir Kecil

Tommy A, PWK 2004. Business Development Enthusiast.    

Mungkin kita begitu akrab dengan istilah “thinking big”, “think globally”, “helicopter view” dan istilah lain mengenai berpikir dalam tataran konseptual. Sebagai insan yang bertumbuh dengan latar belakang pendidikan Planologi/Perencanaan Wilayah, saya terbiasa berpikir dalam tataran konseptual.

Read more

TANTANGAN MASA DEPAN PERKOTAAN

Emmy Yuniarti Rusadi

Mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (S1), Program Fast Track Beasiswa SEAMOLEC Magister Perencanaan Kota dan Daerah (S2)

Universitas Gadjah Mada

 

Dalam Global Report on Human Settlements 2009, laporan  UN-Habitat tahun 2009, diterangkan adanya 5 temuan mengenai tantangan perkotaan masa kini dan masa depan berupa tantangan demografis, lingkungan, ekonomi, sosio-spasial, dan institusional. Untuk aspek demografis (kependudukan), dikatakan bahwa pada tahun 2008 sudah 50% penduduk bumi tinggal di daerah perkotaan. Dengan populasi yang ada, diproyeksikan akan terjadi peningkatan menjadi 70% populasi tinggal di perkotaan. Akan muncul ketidakseimbangan penyediaan infrastruktur utama seperti perumahan, sanitasi, dan hal pokok lain yang memicu urban crises (krisis perkotaan).

Read more