Realita Perencana

Realita Perencana : Sebagai Peneliti Di NGO

Mas Rendy merupakan alumni PWK UGM angkatan 2009. Kini, Ia berprofesi sebagai seorang peneliti kualitatif di SMERU. SMERU merupakan lembaga penelitian independen yang berfokus pada kemiskinan dan ketimpangan sosial. Penelitian yang Ia geluti saat ini adalah (1) studi kemiskinan anak di perkotaan dan (2) studi implementasi undang-undang desa. Keterlibatan SMERU dalam penelitian implementasi undang-undang desa dapat dibilang sebagai sebuah studi monitoring dan evaluasi untuk melihat sudah sejauh mana kebijakan tersebut berhasil diimplementasikan.

“Mungkin temen temen familiar dengan istilah Satu Milyar, Satu Desa? Nah itu adalah salah satu bagian kecil dari undang-undang desa. Jadi kami di SMERU akan melihat itu, mulai dari baseline di September 2015 hingga hari ini, bahkan hingga nanti endline-nya yang diperkirakan akhir tahun 2018. Sepanjang baseline hingga endline itu nanti akan ada teman teman pemantau lapangan, yang live in di desa-desa yang menjadi obyek studi SMERU untuk mencatat perkembangan implementasinya, dan mencatat prosesnya.” ujarnya. Ia menambahkan bahwa cara kerja di SMERU kurang lebih mirip dengan di studio, terutama di tahap identifikasi masalah, dan penggalian data. Namun, yang berbeda adalah di tahap selanjutnya, dimana hasil dari tahap analisis yang dilakukan bukan menjadi input untuk desain fisik, melainkan menjadi input untuk rekomendasi kebijakan.

Bukan Persinggahan Pertama

                  Berkarir sebagai peneliti kualitatif di SMERU merupakan ‘persinggahan’ karir keempat bagi Mas Rendy. Sebelumnya ia pun sempat menjadi asisten dosen, berkarir sebagai Tenaga Ahli di Kantor Konsultan Tata Ruang Cipta Nindita Yogyakarta, dan sebagai Tenaga Ahli di Bappenas Direktorat Perkotaan dan Perdesaan. Bekerja di konsultan ia lakukan setelah menyelesaikan jenjang S1-nya. Di sana, Ia terlibat dalam penyusunan RTBL Kawasan Malioboro dan Bengkalis. Selanjutnya, selama di Bappenas, Ia terlibat dalam penyusunan RPJM Nasional, khusus pada tema kebijakan keterkaitan kota-desa (urban-rural linkage policy). Begitu banyak pertimbangan, termasuk menyelesaikan tesis, pada akhirnya membuat Ia mengambil keputusan untuk resign dari Bappenas dan memilih berkarir pada spektrum yang berbeda, yakni di bidang penelitian. “Tapi ada untungnya juga nih, ketika kita punya jaringan di Bappenas, selain dapat pengalaman juga bisa membangun jalan karir untuk adik adik kita yang lain.” tambahnya.

                  Menjajal karir keilmuan PWK pada berbagai spektrum yang berbeda, menjadikan Mas Rendy dapat melihat kecenderungan pada masing masing bidang karir. Ketika berkarir di konsultan, kemampuan yang banyak diasah umumnya adalah kemampuan desain, kemampuan visualisasi yang apik, serta kemampuan membaca standar-standar berlaku. Berbeda ketika berkarir di Bappenas, ketika bekerja disana kemampuan yang dikedepankan adalah kemampuan berkoordinasi, pemahaman terhadap isu-isu makro, kemampuan me-review regulasi, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan format standar-standar kerangka kelembagaan dan sebagainya. Sementara itu, ketika kini menjadi seorang peneliti, Mas Rendy merasa bahwa kemampuan yang banyak dilatih terutama adalah metodologi penelitian serta pemahaman konteks dan isu yang sedang diteliti.

Mas Rendy bercerita pengalamannya saat pertama kali bergabung dengan SMERU melalui beberapa tahap seleksi. Tahap-tahap tersebut antara lain: tes tertulis, tes psikologi, dan tes wawancara –beberapa sesi menggunakan bahasa inggris. Pada tahap tes tertulis, yang harus dilakukan adalah menganalisis data yang dimiliki oleh SMERU, dan merancang proposal. Setelah itu yang dihadapi adalah tes psikologi yang waktunya bisa sampai sehari penuh, ditambah pula dengan tes FGD (Focus Group Discussion) pada hari yang sama. Tidak berhenti sampai disitu, tahapan tes yang dihadapi selanjutnya adalah tes wawancara dengan pihak manajemen.

                  “Yakin,” jawabnya ketika ditanya tentang tips sukses dalam menjalani serangkaian tes tersebut, “Kemampuan menganalisis juga perlu, ditambah pula dengan menampilkan statement berdasarkan argumentasi yang jelas.”

Lulusan PWK sebagai Peneliti Sosial?

                  “Secara kasat mata, bekerja sebagai peneliti sosial di SMERU memang bukan berada pada jalur PWK. Namun, apabila dilihat lebih mendalam, lembaga penelitian ini lebih membuka diri secara komprehensif terhadap bidang ilmu penelitinya. Dan itu menunjukkan PWK sebenarnya dibutuhkan di bidang riset-riset kebijakan sosial & ekonomi.”, jelasnya.

Bila dikaitkan dengan ilmu PWK, Mas Rendy mengungkapkan bahwa kerja peneliti mengambil bagian pada identifikasi masalah. “Kalau di ilmu PWK, sebelum mendesain kan kita selalu melakukan kajian, penelitian kecil-kecilan, supaya desainnya tepat sasaran, nah itu yang kami lakukan di SMERU. Jadi, memang ilmu PWK masih kepake banget. Contohnya, pada project ‘Kemiskinan Anak di Perkotaan’, ilmu planning yang dipakai adalah ilmu pengamatan tentang bagaimana konteks urbanisasi menjadi factor yang menyebabkan kemiskinan itu muncul. Nah analisis-analisis kewilayahan seperti itulah yang dimiliki oleh seorang planner, termasuk juga ilmu preskriptif ya, ilmu menelaah masa depan, walau tidak sampai desain tapi kami memberi masukan tentang rancangan kebijakan apa yang bisa diperbaiki untuk menjamin anak-anak miskin tersebut terjamin terakomodasi dalam rencana pembangunan daerah, misalnya.” ceritanya.

Tantangan lain menjadi seorang peneliti adalah advokasi kebijakan publik. “Policy engagement itu sulitnya minta ampun. Karena di pemerintahan banyak kepentingan yang dipertimbangkan, sehingga kajian-kajian berbasis bukti bisa jadi sulit didengarkan. Seperti istilah Pak Djun, ‘garbage-in garbage-out’, maksudnya tuh datanya harus bagus, supaya perencanaannya juga bagus. Ya walaupun pada akhirnya tidak bisa ngotot untuk minta sampai didengar, tapi paling engga kalau pengetahuan itu sudah dihimpun melalui penelitian maka bisa didistribusikan kemana saja. Apa yang ditampilkan adalah bukti, bukan asumsi” ujar Mas Rendy ketika menjelaskan tentang lembaga penelitian.

Dalam menjalani karirnya yang sekarang, Mas Rendy sangat dibantu oleh ilmu metodologi penelitian yang dia dapatkan ketika menjalani fastrack di bangku kuliah. Selain itu selama fastrack juga ia mempelajari banyak studi kasus yang cukup membantunya dalam pengenalan isu. “Karena akan selalu ada konteksnya, ketika mengenal suatu teori, maka akan selalu dikaitkan dengan isu atau kasus tertentu.” ujarnya. Tidak hanya ketika fastrack, mas Rendy juga merasa dibantu dengan ilmu yang Ia dapat ketika berada di jenjang S1 PWK. Ilmu-ilmu tersebut didapat dengan mengikuti matakuliah Studio, matakuliah Teori Sosial untuk Rekayasa, matakuliah Monitoring dan Evaluasi, matakuliah Community Development.

Sebagaimana bidang karir lainnya, menjadi seorang peneliti juga membutuhkan softskill. Terdapat serangkaian softskill yang menunjang karirnya sekarang, antara lain adalah kemampuan mengutarakan pendapat, kemampuan meneliti, kemampuan menggali informasi, dan kemampuan menyelenggarakan FGD. Keahlian-keahlian tersebut memang tidak didapat secara signifikan di bangku kuliah, namun dapat dipelajari dengan mengikuti berbagai organisasi. Pada kasus Mas Rendy, Ia melatih kemampuannya dengan mengikuti organisasi jurnalistik, sehingga sudah terbiasa untuk menggali informasi.

                  Selain bercerita banyak tentang karir yang digelutinya, Mas Rendy kemudian mengakhiri ceritanya dengana membagikan tips untuk bisa survive di lingkungan kerja. “Intinya sih belajar, ketika belajar kita akan menemukan hal baru,” ujarnya,” oh ya, menjadi seorang peneliti adalah menjadi pendengar yang baik ya.”

 

Realita Perencana : Sebagai Seorang Pengusaha Trading Migas

“Kuliah-lah untuk mencari ilmu, bukan untuk menunjang karir.”

Pria yang akrab dipanggil Mas Mirza adalah alumni S1 PWK UGM Angkatan 2008. Ia kini menjalankan perusahaannya yang bergerak di bidang trading migas. Bekerja di trading migas bukanlah profesi yang sempat terbayangkan olehnya. Berbagai jenis profesi pernah ia jajal sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan untuk berkarir di dunia trading migas dengan menggandeng rekannya. Karir Mas Mirza di dunia trading migas diawali dengan cita-citanya yang ingin memiliki perusahaan sendiri. “Yah, walaupun belum tau bentuknya akan seperti apa, apakah buka warung atau apa, tapi ya pokoknya pingin punya kantor sendiri.” ceritanya.

Menjadi seorang yang bekerja di trading Migas, dapat dibilang berperan sebagai penyedia berbagai hal yang dibutuhkan oleh klien.”Main jobnya tuh sebenernya simple ya, ada perusahaan butuh barang, kita memang mampu menyediakan barang tersebut, kita menawarkan harga, jika mereka setuju ya sudah deal.” ujarnya. Ia juga mengungkapkan poin-poin pertimbangan mengapa Ia lebih menjatuhkan pilihan untuk berkarir di bidang ini. “Karena sudah mengetahui barang apa saja yang dijual, sudah mengetahui kemana ingin disalurkan, dan sudah paham medan dari hulu sampai hilir, jadi ya saya beranikan diri untuk memilih jalur ini,” ungkap Mas Mirza yang kini masih disibukkan dengan tesisnya untuk menyelesaikan jenjang S2.

Pernah Menjajal Spektrum Karir yang Berbeda

Menjalani karir di bidang Non PWK bukanlah karir pertama yang dijajal oleh Mas Mirza. Sebelumnya Ia sempat berkarir sebagai asisten Tenaga Ahli di kantor konsultan tata ruang. Selain itu, Ia juga pernah menempati posisi sebagai analyst di Knight Frank, sebuah kantor konsultan property terkemuka di Jakarta.

Berprofesi sebagai analyst di Knight Frank Ia jalani sembari menempuh jenjang master di UGM. “Saat saat menjelang tesis, saya merasa belum memiliki pengalaman kerja yang cukup.Paling hanya tiga atau empat bulan saja, karena itulah saya apply di Knight Frank,” ujarnya.

Berhasil diterima di konsultan property, Ia pun ditempatkan di divisi Research. “Tugas utamaku menganalisis tentang kondisi harga property seperti apartemen, gedung kantor, dan landed house. Fokusnya di tiga kota besar yaitu Medan, Jakarta, dan Bali,” ceritanya. Sempat berkarir sebagai analyst di konsultan property menjadikannya memahami seluk beluk feasibility study. “Soal nanti mau membangun apa, ya itu kewenangan klien, kalau kita ya bikin feasibility study & market study-nya,” tambahnya.

Dua tahun berkarir sebagai analyst di Knight Frank sembari berkuliah S2, menyebabkan Mas Mirza merasa fokus utamanya terbagi. Sehingga Ia pun memilih untuk resign dari Knight Frank dan fokus menyelesaikan tesisnya. “Selain itu ya karena sudah jenuh ya, pressure-nya cukup tinggi. Karena merasa sudah tidak cocok juga di dunia konsultan,” akunya.

Berbagai hal Ia alami hingga akhirnya terjun ke dunia yang dapat dibilang sangat berbeda dengan keilmuannya. “Sebenarnya dari dulu sudah kebayang gambarannya ingin menjadi apa, pokoknya ingin punya kantor. Sudah kebayang ending pointnya. Karena ya, aku ngga bisa kerja yang disuruh-suruh. ngga bisa kerja dari jam 8-5 duduk terus begitu. Apalagi overtime, dua tahun kerja tapi pengalamannya tiga tahun, satu tahunnya dihitung lembur hahaha.” ujarnya sambal bercanda.

Kuliah Untuk Mencari Ilmu, Bukan Untuk Mencari Kerja

Mas Mirza hingga kini masih menempuh pendidikan S2 di Magister Ekonomi Pembangunan UGM. “Sebenarnya alasanya agak konyol ya, karena dulu itu ketika S1 satu satunya mata kuliah yang dapet A itu Ekonomi Wilayah,” ujarnya ketika ditanya motivasi dibalik pemilihan jurusan Ekonomi Pembangunan. “Dulu yang dapet A itu cuman aku sama temenku, sementara yang lainnya dapat B. Padahal waktu itu kelihatannya kami nggak mungkin dapat A. Jadi, kalau ujian yang lain minta tambah lembar jawaban, aku malah minta lembar soal. Minta yang lebih mudah hahaha,” candanya.

Merasa keilmuan PWK yang didapat terlalu utopis dan berlingkup luas, menyebabkan Mas Mirza melirik jurusan lain yang cenderung lebih berfokus pada satu keilmuan, “Dulu ketika kuliah di PWK, sempat mendapatkan pembelajaran oleh Pak Sur. Dulu itu kan tema diskusinya tetang pemerataan pembangunan ya. Kemudian beliau bertanya, apakah kami bersedia apabila dipindahkan ke Papua. Lalu teman saya menjawab, ‘tidak pak’. Kemudian Pak Sur bertanya lagi, ‘lalu ngapain mau meratakan pembangunan?’.Ya itulah, aku merasa Pak Sur ada benarnya juga. Karena pastinya akan ada daerah yang lebih maju dibandingkan daerah lainnya. Selain itu, kita tak bisa juga memaksakan pembangunan yang ‘wah’ di daerah itu, tetapi sebenarnya daerah itu tidak mampu secara ekonomi ya,” ujarnya.

Kritik terhadap ilmu yang Ia dapat membawanya kepada ilmu lain yang dianggap mampu mengisi kekurangan keilmuan PWK. “Bagus sih menurutku kalau anak PWK memiliki dasar ilmu ekonomi yang kuat. Sehingga kalau merencanakan sesuatu ya memiliki dasar yang kuat. Semua dipertimbangkan secara terukur,” kritiknya.

Menurutnya, penting untuk mahasiswa PWK memahami ilmu ekonomi, termasuk didalamnya adalah ekonometri. “Ini nih yang ngga ada di PWK, ilmu ekonometri. Ilmu ekonometri itu gabungan antara ilmu matematika, ekonomi, dan statistik. Jadi semua variable akan dihitung, seberapa besar variable itu berpengaruh.” ujarnya. “Jangan sampai kita membangun jembatan tapi padahal di daerah tersebut tidak ada sungai, kan ngga ada dasarnya hahaha.”

Semua ilmu adalah bermanfaat, namun dalam konteks karirnya sebagai pengusaha di bidang trading Migas, Mas Mirza merasa bahwa ilmu yang paling bermanfaat untuknya adalah keahlian pengolahan data. Selain itu ilmu lain yang mampu menunjang karirnya adalah ilmu presentasi dan kerja tim. Mas Mirza juga berpesan bahwa ilmu lain yang tidak kalah pentingnya adalah ilmu berorganisasi.

“Dengan berorganisasi kita dapat bertemu dengan banyak orang, ya kayak ikut Himpunan lah. Jadi, nantinya ketika kerja dan bertemu dengan bos yang aneh-aneh ya kita nggak kaget. Jangan mengira kalau semua orang itu yaa lempeng-lempeng aja,” ujarnya ketika ditanya tentang tips untuk dapat survive di dunia kerja.

Tips lain yang Mas Mirza ungkapkan agar dapat survive di dunia kerja adalah tips untuk meluruskan niat dalam berkuliah. “Aku ingin meluruskan pemikiran yang berkembang akhir akhir ini ya. Menjalani S2 itu bukan untuk menunjang karir, tapi untuk belajar. Walaupun memang nantinya ilmu yang kita dapat dari belajar itulah yang akan membantu kita di pekerjaan kita,” ucapnya, “karena ujung-ujungnya ketika kita bekerja yang digunakan adalah skill yang kita punya. Nah ilmu yang didapat itu akan membantu skill kita.”

Realita Perencana : Menjadi Seorang Dosen

“Menurut saya, menjadi dosen adalah sama halnya dengan menikah, hal utama yang dibutuhkan adalah komitmen untuk dapat mengabdi hingga akhir.”

Siapa yang tidak mengenal sosoknya? Beliau adalah Bu Ratna Eka Suminar, seorang dosen cantik di Program Studi (Prodi) S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UGM. Sebelum menjadi dosen, beliau juga merupakan mahasiswa di tempat yang sama, yaitu Prodi S1 PWK UGM yang dahulu bernama Prodi S1 PKD (Perencanaan Kota dan Daerah). Selain menjadi dosen, semenjak September 2016 yang lalu, beliau juga menjabat sebagai Kepala Unit Departemen (KUD) Bidang Penjaminan Mutu dan Kurikulum.

Sebagai seorang dosen, Bu Ratna menjelaskan, bahwa tugas utamanya adalah menjalankan tridarma. Sehingga, tidak hanya sekedar mengajar, namun Ia juga berkewajiban melakukan penelitian serta kegiatan pengabdian masyarakat. Sedangkan sebagai KUD Bidang Penjaminan Mutu dan Kurikulum, Ia bertugas untuk memastikan proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat civitas academica DTAP sesuai dengan standar akademik yang sudah ditentukan. Selain itu, belau juga bertugas memfasilitas persiapan akreditasi/sertifikasi program studi-program studi di DTAP, dan juga memastikan kesesuaian kurikulum berbagai program studi dalam lingkup DTAP. Beliau menambahkan, bahwa tanggungjawab yang kini Ia tanggung dapat dinilai sangat berat dan menantang, karena lingkup tanggungjawabnya tidak hanya satu program studi saja, melainkan lima program studi yang terdiri dari 2 program studi S1, 2 program studi S2, serta 1 program studi S3.

Menjadi seorang dosen, menurutnya, sama halnya dengan menikah, hal utama yang dibutuhkan adalah komitmen untuk dapat mengabdi hingga akhir. “Jika tidak serius atau hanya menjadikan profesi dosen sebagai batu loncatan, sebaiknya mencari profesi lain saja”, ujarnya. Karirnya sebagai dosen diawali dengan mengambil tawaran untuk menjadi asisten dosen (asdos) di DTAP setelah lulus jenjang S1. Ia bergelut di dunia pendidikan sebagai asdos selama 4 bulan, sebelum melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Studinya Ia lanjutkan di Asian Institute of Technology (AIT) Thailand, dengan jurusan Urban Environmental Management (UEM).

Saat menimba ilmu di AIT Thailand, Bu Ratna mengatakan bahwa Ia mendapatkan materi yang tidak jauh berbeda dengan saat studi di PWK UGM dulu. “Hanya saja, pembahasannya lebih fokus pada sektor lingkungan dengan skup area terbatas di perkotaan”, ceritanya. Ia juga menambahkan bahwa Ia juga mengambil beberapa matakuliah yang ditawarkan di jurusan lain, terutama yang berkaitan dengan regional and rural development serta gender analysis. “Ilmu-ilmu tersebut tentunya sangat bermanfaat dalam memberi tambahwan warna pada kurikulum program studi,” tambahnya.

Dahulu saat masih menjadi mahasiswa, Bu Ratna belum terpikirkan untuk menjadi seorang yang bekerja di dunia pendidikan sebagai seorang dosen. Justru, pada saat itu yang terpikirkan olehnya adalah berkarir di bidang pemerintahan, seperti di Bappeda atau Dinas Pekerjaan Umum. Hal tersebut sedikit banyak dipengaruhi karena sebagian besar matakuliah S1 PWK UGM ‘memaksa’ mahasiswa banyak berhubungan dengan instansi pemerintahan, terlebih matakuliah Studio. Ditambah lagi juga karena Ia melakukan Kerja Praktiknya di instansi pemerintahan, sehingga Ia pun cukup terbiasa dengan sektor tersebut.

Keinginan menjadi dosen justru muncul ketika ia menjadi asisten dosen setelah menyelesaikan jenjang S1nya, dan melanjutkannya ke jenjang S2. Untuk menjadi dosen pada tahun 2011 yang lalu, Ia melewati beberapa tahap seleksi. Tahapan seleksi tersebut antara lain adalah: (1) Melakukan pendaftaran & pengumpulan persyaratan administrasi, (2) Mengikuti tes wawancara di tingkat jurusan (kini departemen), dan juga di tingkat fakultas, serta (3) Mengikuti tes tertulis di tingkat universitas. Namun, proses tersebut kini sudah mengalami perubahan. “Untuk saat ini prosesnya dibalik, proses seleksi dilakukan mulai dari tingkat universitas, kemudian baru ke fakultas, dan departemen.” ujarnya.

“Untuk menjadi dosen pada jenjang S1, tentu calon pelamar harus mengantongi ijazah S1 terlebih dahulu. Selain itu persyaratan lainnya nilai IPK harus di atas 3,50 dengan masa studi S1 maksimal 5 tahun,” ucapnya saat ditanyakan tips untuk menggapai karir sebagaimana sekarang ini. “Oleh karna itu, jika ingin menjadi dosen haruslah dipersiapkan dengan matang sejak masih menjadi mahasiswa S1,” tambahnya.

Sebagaimana pekerjaan lainnya, kemampuan softskill juga diperlukan untuk menunjang karir. Sebagai seorang dosen, Bu Ratna merasa bahwa softskill yang dirasakan bermanfaat dalam mendukung karirnya adalah kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang banyak, juga softskill untuk bekerjasama di dalam kelompok. Softskill yang ia miliki tersebut, selain menunjang karirnya, juga berguna untuknya beradaptasi saat menghadapi dunia kerja yang berbeda dengan dunia perkuliahan. Ditambah lagi dunia kerja yang ia geluti kini adalah dunia pendidikan dimana ia berperan sebagai akademisi, sehingga haruslah beradaptasi dengan kode-kode etik yang harus ditaati. “Kini, sebagai seorang dosen, ada juga beberapa kode etik dari sisi sikap dan penampilan yang harus dipatuhi,” ujarnya.